Lagi, luka itu kembali tersayat. Dengan pisau yang sama dan dari tangan yang sama pula. Darah segar kembali menetes, membasahi kulit-kulit yang mulai berkerut tak lagi sama dengan belasan tahun yang lalu. Rasanya jantung berdetak lebih keras, hingga membuat dada ini sesak. Mata lelah sehabis kerja harus melotot menyaksikan kenyataan pahit dari layar ponsel. Badan lemas mulut tak mampu lagi untuk berkata. Entah kesakitan apalagi ini. Rasanya hati terus-terusan dihantam oleh badai kecurangan. Pengabdian, pengorbanan seolah sirna begitu saja tanpa ada artinya. Hidup yang tenang kembali terkoyak oleh ombak. Ini bukan yang pertama, ini bukan yang pertama. HHhhhhh..... Kuhirup nafas dalam-dalam berharap kenyataan ini tak nampak di depan mata. Apa aku terlalu hina hingga ini yang aku dapatkan? Kotoran dilempar tepat di depan mataku. Berulang kali....... Penjelasan demi penjelasan kembali aku dengar. Narasinya masih sama... Yaa Allah.... Jika kekuatan itu bukan dari Engkau, pasti langkahku sudah ke belakang. Ku tatap dua malaikat kecil yang masih terlelap. Mereka adalah amanat, mereka adalah titipan, yang harus aku rawat, harus aku dampingi tumbuh kembangnya dengan rasa sayang, cinta, dan rasa aman. Aku tak mungkin memecahkan kebahagiaannya meski sakit ini merongrong isi hati. Ku dekap badannya, berharap pelukanku cukup memberi mereka kehangatan. Ku usap dan ku belai rambutnya, seraya aku berdoa, sakitku semoga menjadi jalan bahagia anak-anakku dalam hidup yang sekarang maupun yang akan datang. Kertas kusut itu tidak dapat rapi kembali. Putihnya bukan lagi putih bersih, melainkan putih yang penuh dengan bekas remasan remasan penuh dengan amarah dan kekecewaan. Tidak ada perjalanan yang mulus dan lurus. Semoga track memiliki tikungan dan rintangannya masing-masing. Mungkin memang seperti inilah track kehidupan yang mesti aku lalui. Badai ini harus aku lalui, dengan tanpa mengganti setiap orang yang ada dalam kehidupanku. Karena melalui badai dengan mengganti orang-orang dalam kehidupan kita bukanlah jalan yang terbaik.
daun gugur
Jumat, 03 April 2026
Dalam Lemah Aku Bersimpuh
Langganan:
Postingan (Atom)